"The Story of Oda Nobunaga" - Sekilas Cerita Menarik Tentang Oda Nobunaga

Oda Nobunaga (23 Juni 1534 s/d 21 Juni 1582)
Kisah Sekilas Tentang Nobunaga

Oda Nobunaga adalah seorang bangsawan (daimyo) Jepang yang hidup dari zaman Sengoku hingga zaman Azuchi-Momoyama. Nobunaga dilahirkan di Istana Shōbata pada tahun 1534 sebagai putra ketiga Oda Nobuhide, seorang daimyo zaman Sengoku dari Provinsi Owari. Lahir sebagai pewaris Oda Nobuhide, Nobunaga harus bersaing memperebutkan hak menjadi kepala klan dengan adik kandungnya Oda Nobuyuki. Saat menjadi penguasa klan, Nobunaga pada awalnya terkenal dengan sebutan sebagai "Bangsawan Pandir". Pandir artinya adalah bodoh dan bebal. Sifat pandir, kasar, dan tidak tahu aturan terdapat dalam diri Nobunaga. Tetapi dia memang sengaja ingin memberikan kesan demikian pada orang lain, musuh-musuhnya serta lawan-lawan politiknya. Beberapa waktu sebelum ayah Nobunaga meninggal, ayahnya telah mengatur pertunangan Nobunaga dengan anak perempuan Saito Dosan yang merupakan penguasa dari klan Mino. Sudah bertahun-tahun Mino dan Owari saling bermusuhan, jadi rencana pernikahan tersebut tentu saja bersifat politik. Pada saat Nobunaga merayakan ulang tahunnya yang ke sembilan belas. Karena ingin berjumpa dengan menantunya, Saito Dosan mengusulkan untuk mengadakan pertemuan pertama mereka di kuil Shotokuji di Tonda, di perbatasan kedua propinsi, yaitu propinsi Mino dan Owari. Diiringi rombongan besar, Nobunaga meninggalkan Benteng Nagoya, menyeberangi sungai Kiso dan Hida, lalu terus maju sampai ke Tonda. Sekitar lima ratus anak buahnya membawa busur panjang atau senjata api, empat ratus lagi membawa tombak sepanjang enam meter, dan mereka diikuti oleh tiga ratus prajurit biasa. Sedangkan dua samurai dari marga Saito ditempatkan sebagai pengintai di batas desa di sebuah gubug rakyat jelata. Mereka siap memberi laporan kepada Saito Dosan. Banyak cerita mengenai Nobunaga beredar di masyarakat pada saat itu. Terutama mengenai sifatnya yang pandir dan tidak tahu aturan. Ketika pasukan Owari mulai mendekat, Saito Dosan mengamati gaya berjalan para prajurit serta susunan pangkat mereka. Dosan tidak melepaskan mata dari pemandangan di hadapannya. Di tengah-tengah para penunggang kuda terdapat seekor kuda yang teramat  gagah, dengan berangus berkilauan. Di pelana mewah yang dihiasi indung mutiara, duduk Nobunaga, tangannya menggenggam tali kekang berwarna ungu dan putih.  Dia sedang asyik berbincang-bincang dengan para pengikutnya. Penampilan Nobunaga terlihat sangat tidak lazim. Dosan telah diberitahu bahwa sang penguasa Owari biasa berpakatan aneh, tapi ini melebihi segala cerita yang pernah didengarnya. Bahkan saat Nobunaga berlalu, para pengikut Saito Dosan harus memaksakan diri untuk tidak tertawa berderai-derai. Wajah-wajah mereka menampakkan bahwa mereka sedang berusaha menahan tawa. Bahkan saat Nobunaga bertemu dengan mertuanya Saito Dosan, Nobunaga berpura-pura tidak peduli sambil memainkan kipasnya. Ketika Nobunaga mulai akrab dengan mertuanya, Nobunaga berkata kepada Saito Dosan. "Tuanku Dosan-Ayah mertua-dalam perjalanan ke sini, aku bertemu seseorang yang sungguh aneh." Dosan menjawab: "aneh bagaimana?" Ada seorang yang sudah tua, dan dia mengintip iring-iringan di jendela gubuk rakyat jelata. Meskipun baru kali ini aku bertemu dengan ayah mertua, Ayah mertua sangat mirip dengan orang itu. Bukankah ini aneh sekali ?". Dosan terdiam seolah-olah baru menelan minuman pahit. Para pengintai Dosan mulai bermandikan keringat. Rupanya Saito Dosan tidak mengira bahwa Nobunaga akan mengetahuinya. Dosan akhirnya sadar bahwa dia terlalu menyepelekan dan salah dalam menilai Nobunaga.

Pada suatu saat adik laki-laki Nobunaga, Nobuyuki dan ibunya bersekongkol untuk menggulingkan Nobunaga. Nobuyuki dan ibunya mulai membahas rencana-rencana mereka untuk menjatuhkan Nobunaga. Ibunya berpendapat bahwa Nobuyuki lebih patut untuk menjadi penguasa Owari dibanding Nobunaga. Tanpa diketahui oleh Nobuyuki dan ibunya, Nobunaga mengirim mata-mata untuk mengetahui rencana-rencana pemberontakan. Nobunaga berhasil memukul kalah pasukan pemberontak dan menghabisi adiknya sendiri. Sejak kejadian tersebut tidak ada lagi yang menganggap Nobunaga orang pandir. Bahkan sebaliknya, semua orang meringkuk ketakutan karena kecerdasan dan ketajaman mata Nobunaga. Sesungguhnya Nobunaga tidak bermaksud mengelabuhi para pengikut dan sanak saudaranya sendiri dengan memainkan peran si pandir. Namun, sejak kematian Ayahnya, ia dibebani tanggung jawab untuk melindungi propinsi dari musuh-musuh di sekelilingnya. Ia memilih penyamarannya karena alasan keamanan. Ia terpaksa harus mengecoh para pengikut dan sanak saudaranya sendiri untuk mengelabuhi musuh-musuhnya dan mata-mata mereka. Seandainya ia sejak semula menampilkan diri sebagai penguasa yang baik, musuh-musuhnya akan memperoleh kesempatan untuk menyusun strategi baru. Dengan berperan sebagai si pandir maka musuh-musuhnya akan lebih santai dan meremehkannya tanpa harus menyusun strategi baru.

Pada tahun 1560, penjaga wilayah Suruga yang bernama Imagawa Yoshimoto memimpin pasukan besar-besaran yang dikabarkan terdiri dari 20.000 sampai 40.000 prajurit untuk menyerang Owari. Imagawa Yoshimoto adalah musuh Nobunaga karena masih satu keluarga dengan klan Kira yang merupakan garis luar keturunan keluarga shogun Ashikaga. Klan Matsudaira dari Mikawa yang berada di garis depan berhasil menaklukkan benteng-benteng pihak Nobunaga. Pertempuran tidak seimbang karena jumlah pasukan klan Oda hanya sedikit. Di tengah kepanikan para pengikutnya, Nobunaga tetap tenang. Saat tengah malam, Nobunaga tiba-tiba bangkit menarikan tarian Kōwaka-mai dan menyanyikan lagu Atsumori. Setelah puas menari dan menyanyi, Nobunaga pergi berdoa ke kuil Atsuta-jingū dengan hanya ditemani beberapa orang pengikutnya yang menunggang kuda. Sebagai pengalih perhatian, sejumlah prajurit diperintahkan untuk tinggal di tempat. Sementara itu, Nobunaga memimpin pasukan yang hanya terdiri dari 2.000 prajurit untuk menyerang pasukan Imagawa yang sedang mabuk kemenangan. Imagawa Yoshimoto diincarnya untuk dibunuh. Pasukan Nobunaga pasti kalah jika berhadapan langsung dengan pasukan Imagawa yang berjumlah sepuluh kali lipat. Peristiwa ini dikenal sebagai Pertempuran Okehazama. Imagawa Yoshimoto sangat terkejut dan tidak menduga serangan mendadak dari pihak Nobunaga. Pengawal berkuda dari pihak Nobunaga, Hattori Koheita dan Mōri Shinsuke berhasil membunuh Imagawa Yoshimoto. Setelah kehilangan pemimpin, sisa-sisa pasukan Imagawa pulang melarikan diri ke Suruga. Kemenangan dalam Pertempuran Okehazama membuat nama Oda Nobunaga, 26 tahun, menjadi terkenal di seluruh negeri.

Seusai Pertempuran Okehazama, klan Imagawa menjadi kehilangan kendali atas klan Matsudaira yang melepaskan diri dari keluarga Imagawa. Pada tahun 1562 dengan perjanjian Persekutuan Kiyosu, Nobunaga bersekutu dengan Matsudaira Motoyasu (kemudian dikenal sebagai Tokugawa Ieyasu) dari Provinsi Mikawa. Kedua belah pihak memiliki tujuan yang sama, yakni menghancurkan klan Imagawa. Okehazama secara umum dianggap sebagai pijakan pertama Nobunaga dalam usaha besarnya menyatukan seluruh Jepang dan menciptakan perdamaian di seluruh negeri.

Setelah menang dalam pertempuran melawan klan Imagawa dan klan Saito, Nobunaga menjadi pengikut Ashikaga Yoshiaki dan diangkat sebagai pejabat di Kyoto. Kekuatan penentang Nobunaga seperti klan Takeda, klan Asakura, pendukung kuil Enryakuji, dan kuil Ishiyama Honganji dapat ditaklukkan berkat bantuan Ashikaga Yoshiaki. Nobunaga menjalankan kebijakan pasar bebas (rakuichi rakuza) dan melakukan survei wilayah. Nobunaga diserang pengikutnya yang bernama Akechi Mitsuhide sehingga terpaksa melakukan bunuh diri dalam Insiden Honnōji. Nobunaga dikenal dengan kebijakan yang dianggap kontroversial seperti penolakan kekuasaan oleh klan yang sudah mapan, dan pengangkatan pengikut dari keluarga yang asal usul keturunannya tidak jelas. Nobunaga berhasil memenangkan banyak pertempuran di zaman Sengoku berkat penggunaan senjata api model baru. Selain itu, ia ditakuti akibat tindakannya yang sering dinilai kejam, seperti perintah membakar semua penentang yang terkepung di kuil Enryakuji, sehingga Nobunaga mendapat julukan raja iblis.

Demikian sekilas cerita mengenai Oda Nobunaga, "Sang Penakluk dari Owari".
Bersambung .. ;)
Previous
Next Post »