Filosofi Empat Makhluk Spiritual China Dalam Seni Beladiri

4 Makhluk Mitologi China

Filosofi Empat Makhluk Spiritual China Dalam Seni Beladiri

1. DRAGON / NAGA

Naga dikenal dalam berbagai peradaban baik Inggris(Dragon), Skandinavia(draken), China (Liong), dikenal sebagai makhluk yang berwujud menyerupai ular, kadang bisa menyemburkan api, habitatnya di seluruh ruang (air, darat, udara). Sosok naga di dunia barat digambarkan sebagai monster, cenderung merusak dan bersekutu dengan kekuatan gelap. Dicitrakan sebagai tokoh antagonis yang seharusnya dihancurkan. Seseorang bisa mendapat gelar pahlawan atau ksatria dengan membunuh naga. Pendek kata, naga adalah ancaman bagi manusia. Tidak demikian halnya dengan citra naga di peradaban timur. Di Tiongkok, naga dianggap sebagai sosok yang bijaksana dan agung layaknya dewa. Naga adalah satu-satunya hewan mitos yang menjadi simbol Shio.

Sejarah perkembangan naga dalam kebudayaan China sudah berlangsung sangat lama. Kebudayaan ini sudah ada sejak ratusan tahun bahkan ribuan tahun yang lalu. Di negara China naga dianggap suatu hal yang baik dan dihidangkan dengan segala yang baik. Naga menurut yang diyakini oleh masyarakat China memiliki 117 sisik, 81 diantaranya berkarakter Yang (Positif) dan 36 lainya memiliki karakter Yin (Negatif).

Menurut kepercayaan rakyat China, naga memiliki peranan yang cukup penting. Bagi Bangsa China, naga adalah salah satu dari empat makhluk spiritual yang mendapat penghormatan tertinggi. Tiga makhluk lainnya adalah Phoenix, Qilin (Kirin) dan Kura-kura. Naga adalah makhluk yang paling perkasa. Naga melambangkan kebaikan, kesuburan, kewaspadaan dan harga diri. Sejak dinasti Han ( 206 BCE – 220 CE ) naga juga digunakan sebagai lambang Kaisar yang dianggap sebagai “Putera langit”. Naga juga merupakan hewan ke 5 dalam sistim sodiak 12 tahunan kelahiran Tionghoa, shio; xiao.

2. PHOENIX

Dalam bahasa China Phoenix sering disebut dengan Fenghuang. Phoenix merupakan makhluk mitologi yang kaya akan metafora. Kata fenghuang sendiri mengindikasikan bahwa mahluk tersebut adalah ‘rajanya para burung’. Phoenix merupakan burung paling terhormat di antara pelbagai jenis mahluk berbulu burung. Dalam perjalanannya, phoenix digambarkan sesuai dengan makna simbolik budaya yang melingkupinya. Satwa itu digambarkan memiliki kepala seperti burung pelikan, berleher seperti ular, berekor sisik ikan, bermahkota burung merak, bertulang punggung mirip naga, berkulit sekeras kura-kura. Sementara bulunya memiliki lima warna lambang lima kebajikan, ekornya dapat menghasilkan suara musik jika bergerak dan bersinggunggan dengan angin, dan ia lebih banyak bersembunyi, hanya muncul pada saat sebuah negara mengalami malapetaka. Satwa itu diyakini akan memperbaiki keadaan dan mendamaikan suasana. Tubuh phoenix pun tak luput dari metafora—simbol dari sifat utama manusia. Kepala adalah kebajikan, sayapnya adalah tanggung jawab, punggungnya adalah perbuatan baik, dadanya adalah kemanusiaan, dan perutnya adalah sifat terpercaya.

3. QILIN

Yang jantan disebut Qi dan yang betina disebut Lin. Penampilan anehnya adalah gabungan dari kepala naga, tanduk rusa, kuku kuda, ekor sapi, dahi serigala dan tubuhnya ditutupi dengan sisik yang berwarna-warni dan kerang. Legenda mengatakan bahwa di mana saja Qi Lin berada akan membawa nasib baik. Dengan demikian keberadaan Qi Lin mewakili “nasib baik”. Dalam budaya tradisional Cina, Qi Lin adalah simbol keberuntungan dan dinyatakan bahwa “Qi Lin datang dalam masa yang berkembang”. Orang percaya bahwa Qi Lin dianggap sebagai makhluk keberuntungan yang dapat menjaga dari kemalangan, menghilangkan kejahatan, penjaga tempat tinggal, dan memberikan keberuntungan dan promosi secara cepat. Qi Lin merupakan simbol apresiasi, persahabatan, berkah, kebajikan dan kompetensi yang tinggi.

4. KURA-KURA

Orang-orang Cina telah sangat yakin bahwa banyak rahasia langit dan bumi tersembunyi di Kura-kura, karena pola rumit dan garis-garis pada cangkangnya. Oleh karena itu, kura-kura telah menjadi makhluk misteri dan sumber budaya berlimpah. Kura-kura juga melambangkan umur panjang, karena umurnya yang sangat panjang. Biasanya orang menggunakan metafora “umur kura-kura” atau “umur bangau” untuk mengungkapkan bahwa kehidupan seseorang akan selama umur kura-kura dan bangau. Sejak zaman dahulu, orang percaya bahwa kura-kura membawa keberuntungan, dan telah menjadi makhluk spiritual yang suci. Menempatkan patung kura-kura yang terbuat dari batu giok di rumah dapat mendamaikan Ying dan Yang, mengatur medan magnet alami, dan bertindak sebagai suplemen keberuntungan. Sebuah kura-kura terbuat dari batu giok juga dapat berfungsi untuk menjaga tempat tinggal dan untuk menjamin keamanan dan kesejahteraan.



KESIMPULAN
Untuk mendalami beladiri dibutuhkan ke 4 karakter dari gambaran ke 4 makhluk tersebut, yaitu Naga, Phoenix, Qilin, dan Kura-kura. Naga melambangkan kebaikan, kewaspadaan dan harga diri. Kita memerlukan niat baik, kewaspadaan dan harga diri dalam mendalami sebuah aliran beladiri apapun. Kepala Phoenix menyimbolkan kebajikan, sayapnya adalah tanggung jawab, punggungnya adalah perbuatan baik, dadanya adalah kemanusiaan, dan perutnya adalah sifat terpercaya. Seorang guru atau pelatih beladiri yang baik tentunya tidak hanya sekedar mengajarkan teknik atau cara berkelahi saja, tetapi guru yang baik akan mengajarkan kepada muridnya juga tentang kebajikan, tanggung jawab, pentingnya berbuat baik dan sifat terpercaya atau dapat dipercayai. Qi Lin merupakan simbol apresiasi, persahabatan, berkah, kebajikan dan kompetensi yang tinggi. Qi Lin mengajarkan bahwa beladiri bukan untuk mencari musuh, tetapi justru untuk mencari sahabat, untuk menjalin persahabatan, dan untuk saling tolong-menolong. Jika kita saling menghormati dan tolong menolong, maka berkah dan kebajikan akan senantiasa menaungi hidup kita. Yang terakhir adalah kura-kura, kura-kura merupakan simbol dari kesabaran. Beladiri yang baik selalu melatih kita untuk lebih sabar. Beladiri yang baik mengajarkan kepada kita bagaimana cara mengendalikan emosi sehingga kita tidak mudah terpancing. Dalam berlatih beladiripun juga diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk dapat menjadi seorang yang piawai dalam beladiri / ahli beladiri.

Apapun beladiri yang sedang ditekuni, diperlukan sebuah filosofi yang positif untuk mengendalikan dirikita sendiri supaya tidak menjadi brutal. Beladiri yang sesungguhnya mengajarkan kepada kita untuk selalu bersikap bijaksana, rendah hati dan saling memberi hormat. Kita belajar memberikan respect atau hormat, baik kepada seorang pemula, junior maupun senior. :)

~by. Nobunagashop



Previous
Next Post »