Hideyosi "Sang Samurai Tanpa Pedang" ( Kisah Penaklukan Benteng di Kanegasaki)


Toyotomi Hideyosi (2 Februari 1536 s/d 18 September 1598)

Toyotomi Hideyosi "Sang Samurai Tanpa Pedang" ( Kisah Penaklukan Benteng di Kanegasaki)


Biografi Singkat

Toyotomi Hideyoshi lahir pada tanggal 2 Februari 1536 sebagai anak petani di desa Nakamura, provinsi Owari. Lalu meninggal 18 September 1598 pada umur 62 tahun. Dia adalah pemimpin Jepang mulai dari zaman Sengoku sampai zaman Azuchi Momoyama. Setia mengabdi pada junjungannya yaitu Oda Nobunaga. Kemudian Hideyosi mewarisi kekuasaan Oda Nobunaga setelah Nobunaga tewas dibunuh oleh tangan kanannya sendiri, Akechi Mitsuhide. Berikut adalah penggalan kisah dari salah satu aksi Toyotomi Hideyosi ketika dia membantu Nobunaga dalam penaklukan benteng di Kanegasaki.

Penaklukan Benteng di Kanegasaki

Setelah Nobunaga berhasil menguasai situasi atas ibukota (Kyoto) dan merebut benteng Mitsukuri. Nobunaga merencanakan penyerangan terhadap marga Asakura di Echizen, oleh sebab marga Asakura tidak pernah menanggapi sang Shogun, dan tidak mengirim sepotong kayu pun untuk pembangunan istana kekaisaran. Yang Mulia Asakura ditunjuk oleh Sang Shogun dan berkedudukan sebagai pengikut Sang Tenno, tapi tak ada yang dipikirkannya selain kemewahan dan kemalasan marganya sendiri. Nobunaga turun tangan untuk menyelidiki hal ini, dan membentuk pasukan untuk menghukumnya. Penyerangan terhadap marga Asakura merupakan sebuah langkah yang besar bagi Nobunaga.

Pasukan Nobunaga terus mendesak maju, membumihanguskan benteng-benteng musuh serta pos-pos perbatasan. Pasukan Oda Nobunaga mengirim beberapa batalion untuk menyerbu benteng-benteng di Kanegasaki dan Tezutsugamine. Tezutsugamine, benteng itu menyerah dalam waktu singkat. Tetapi benteng di Kanegasaki tidak bisa semudah itu ditaklukkan. Benteng ini dipertahankan mati-matian oleh Asakura Kagetsune, seorang jendral berusia dua puluh enam pada waktu itu. Pasukan Nobunaga melancarkan serangan besar besaran terhadap benteng di Kanegasaki, menodai tembok-tembok dengan percikan darah, dan sepanjang hari mencengkram bagaikan semut. Ketika mereka menghitung jumlah mayat menjelang malam, pihak musuh kehilangan tiga ratus jiwa, tapi korban jiwa di pasukan mereka sendiri berjumlah lebih dari delapan ratus.

"Benteng ini tidak akan jatuh. Dan kalaupun kita dapat menaklukkannya, kita tidak meraih kemenangan," Kata Hideyosi (Toyotomi Hideyosi) kepada Nobunaga.
"Kalaupun benteng Kanegasaki takluk, itu tidak berarti Echizen akan runtuh. Dengan merebut benteng ini, kekuatan militer tuanku tak akan meningkat." Nobunaga memotongnya dengan berkata "tapi bagaimana kita bisa maju tanpa mengalahkan Kanegasaki?" Ketika Hideyosi dan Nobunaga sedang berbicara tiba-tiba Ieyasu (Penguasa Mikawa) melangkah masuk dan berdiri di sana. Nobunaga menjelaskan apa yang mereka bicarakan kepada Ieyasu. Ieyasu sependapat dengan apa yang dikatakan Hideyosi. "Membuang-buang waktu dan menyia-nyiakan pasukan di benteng ini bukanlah langkah bijaksana." Lalu Nobunaga menanyai pendapat Hideyosi dalam suatu percakapan.
"Hideyosi."
"Ya Tuanku."
"Ceritakan Rencanamu."
Hideyosi menjawab, "Hamba belum menyusun rencana"

"Apa?"Bukan Nobunaga saja yang tampak terkejut.
Ieyasu pun kelihatan bingung.
"Di dalam benteng itu ada tiga ribu prajurit dan tembok-tembok benteng diperkuat oleh hasrat mereka untuk menghadapi musuh berkekuatan sepuluh ribu orang dan bertempur sampai titik darah penghabisan. Meskipun hanya benteng kecil, Kanegasaki tak akan dapat direbut dengan mudah. Hamba sangsi apakah benteng itu akan goyah, kalupun kita mempunyai rencana. Orang-orang itu pun manusia biasa, jadi hamba membayangkan bahwa mereka juga memiliki perasaan dan ketulusan..."
"Kau mulai lagi, he?" ujar Nobunaga. Nobunaga telah mengenal cara berpikir Hideyosi, sehingga ia tak perlu mendengar penjelasan terperinci untuk mempercayainya. "Bagus bagus sekali" kata Nobunaga. "Dengan ini aku memberimu wewenang untuk melakukan apa saja yang ada dalam kepalamu. Laksanakanlah sebaik-baiknya."
"Terima kasih tuanku." Hideyosi menarik diri, seakan-akan urusan tersebut tidak seberapa penting.

Pada malam hari Hideyosi memasuki benteng musuh seorang diri dan menemui komandannya, Asakura Kagetsune. Hideyosi membuka hatinya dan berbicara dengan penguasa benteng yang masih muda itu.
"Tuan pun berasal dari keluarga samurai, jadi perhatian Tuan tentu tertuju pada hasil akhir pertempuran ini. Perlawanan lebih lanjut hanya akan mengakibatkan kematian prajurit-prajurit yang sangat berharga. Aku sendiri tak ingin melihat Tuan mati percuma. Daripada tewas sia-sia, mengapa Tuan tidak membuka gerbang benteng dan mundur teratur, bergabung dengan Yang Mulia Yoshikage yang telah melarikan diri dan menghadapi kami sekali lagi di medan pertempuran yang lain? Aku akan menjamin keamanan semua harta, senjata, serta para perempuan dan anak-anak di dalam benteng, dan mengirim semuanya kepada Tuan, tanpa gangguan."
"Berpindah medan tempur dan menghadapi Tuan di lain waktu memang menarik," balas Kagetsune, lalu mempersiapkan diri untuk mundur teratur. Bersikap seperti samurai sejati, Hideyosi memberikan segala kemudahan bagi pasukan musuh yang hendak mundur, lalu mengawal mereka sampai sejauh satu mil dari benteng. Demikianlah benteng di Kanegasaki berhasil ditaklukkan oleh Hideyosi, yang hanya bermodalkan kemampuan negosiasi dan perundingan. Para pasukan di Kanegasasi akhirnya mundur secara teratur, sukarela dan tanpa paksaan.

Hal itulah mengapa Hideyosi sering dijuluki sebagai "Samurai Tanpa pedang" oleh karena kecerdasannya dalam bernegosiasi dan menyusun rencana.
Tiga Serangkai dari Jepang yaitu Nobunaga, Hideyosi dan Ieyasu, mereka sama-sama bercita-cita untuk menguasai dan mempersatukan Jepang, namun sifat mereka bertiga berbeda satu sama lain: Nobunaga, gegabah, cerdas, tegas dan brutal tetapi pandai memainkan strategi; Hideyosi, sederhana, halus, cerdik, kompleks; Ieyasu, tenang, sabar dan penuh perhitungan. Falsafah-falsafah mereka yang berlainan sejak dulu telah diabadikan oleh rakyat Jepang dalam sebuah sajak yang diketahui oleh setiap anak sekolah:

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?

Nobunaga menjawab, "Bunuh saja!"
Hideyosi menjawab. "Buat burung itu ingin berkicau."
Ieyasu menjawab, "Tunggu."


~Nobunagashop
Previous
Next Post »