Berlatihlah Beladiri BUKAN Untuk Menjadi Yang Terhebat atau Terkuat !


Terdapat bermacam-macam tujuan yang memotivasi banyak orang untuk berlajar beladiri. Ada yang bertujuan untuk sekedar menjaga kesehatan, ada yang karena ingin berprestasi dalam dunia olahraga (atlit), ada yang berlatih dengan tujuan sebagai bekal mengingat meningkatkan angka kriminalitas akhir akhir ini, adapula yang berlatih beladiri untuk menjadi yang terkuat dan terhebat. Setiap orang memiliki motivasi yang berbeda-beda.

Saya sangat suka dengan filosofi yang diajarkan oleh beladiri-beladiri traditional. Beladiri traditional mengajarkan lebih dari sekedar untuk menjadi yang terkuat ataupun menjadi yang terhebat di antara para rekan-rekannya. Hal ini jarang ditemukan dalam beladiri-beladiri modern saat ini. Tetapi  juga tidak menjamin bahwa semua beladiri tradisional menerapkan hal ini. Contoh beladiri traditional yang masih bertahan saat ini adalah: Kungfu, Samurai, Jiujitsu, Wingchun, Aikido, Taichi dan Kempo. Beladiri  tradisional lebih mengutamakan ke jalan hidup, yang dipelajari masih gerakan-gerakan untuk melumpuhkan, membunuh dan menghabisi, namun pada tingkatan tertinggi pada beladiri tradisional kita akan diarahkan untuk bersatu dengan alam dan mencapai pencerahan karena tujuan beladiri tradisional adalah sebagai jalan hidup. Filosofi beladiri dalam dunia samurai Jepang dikenal dengan istilah "Bushido" / Kode Etik Para Ksatria Samurai.  Kungfu China dengan filsafat "Lao Tse" atau filosofi Dao / Taoisme. Sedangkan dalam beladiri pencak silat terkenal dengan istilah penyatuan Raga,Cipta,Rasa dan Karsa untuk bisa menyentuh kehendak Sang Pencipta.
Diperlukan sebuah kedewasaan dan cara berpikir yang benar dalam mendalami suatu aliran beladiri tertentu, baik itu beladiri tradisional maupun beladiri-beladir modern. Beladiri tidak hanya sekedar membentuk otot saja, tetapi juga membentuk kepribadian dan karakter. Jika kita berlatih beladiri hanya untuk menjadi terkuat saja, maka otak kita menjadi tumpul dan karakter pun menjadi kurang baik.

Berikut adalah sikap dan karakter apa saja yang bisa Anda dapatkan dalam beladiri:

1. Respect
Kita perlu memiliki sikap saling menghargai dan menghormati baik dengan sesama teman latihan maupun dengan aliran beladiri lainnya. Beladiri saat ini menjadi seperti agama, banyak yang mudah naik pitam ketika tersindir menyangkut aliran beladirinya. Beberapa agama mengklaim bahwa agamanyalah yang paling benar. Hal ini tidak ada bedanya dengan beladiri, banyak aliran beladiri yang mengklaim bahwa alirannya adalah yang paling baik. Saya berasumsi bahwa kita sepakat bahwa tidak ada makhluk yang sempurna. Hanya Tuhan saja yang sempurna. Demikianpula tidak ada beladiri yang sempurna. Semua beladiri memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada yang sempurna. Tetapi fakta mengatakan bahwa saat ini masih banyak yang sombong dengan merasa bahwa beladirinyalah yang paling hebat. Intinya kita harus memiliki toleransi antar umat beladiri dan juga toleransi antar sesama anggota kita. Berlatih bukan untuk saling mengalahkan atau menunjukkan siapa yang terhebat, tetapi  berlatihlah untuk bisa sama-sama berkembang, saling membantu, dan belajarlah respect kepada siapapun juga, baik kepada seorang pemula maupun senior. Jangan pernah membeda-bedakan !!

2. Beladiri Melatih Kita Untuk Disiplin, Tekun dan Pantang Menyerah.
Ketika kita serius mempelajari beladiri dan mengikuti petunjuk dari guru kita, maka hal itu akan menjadikan kita seorang pribadi yang disiplin , gigih dan tekun. Hal ini sangat berguna untuk bekal kita baik dalam melakukan bisnis ataupun bidang pekerjaan kita masing-masing.

3. Beladiri Melatih Kita Untuk Mengendalikan Ego Kita.
Kalau seseorang mau menyelidiki pikiran sendiri, maka ia akan menjumpai masalah klasik yang sama, dimana ketegangan dan kebosanan selalu timbul bila pikiran meminta sesuatu kepada orang lain. Biasanya seseorang berpikir ‘Apa yang bisa dia berikan kepada saya ? ‘ Jarang sekali seseorang mau berpikir ‘Apa yang bisa saya berikan kepadanya ?’ Ego inilah yang sering membawa kita kepada banyak masalah yang pada akhirnya menimbulkan stres, bosan dan sebagainya.
Pernahkah Anda bosan dalam latihan beladiri, sekali-kali cobalah hal tersebut. Mulai berpikir apa yang bisa saya berikan untuk partner latihan saya ? Apa yang bisa saya berikan untuk pelatih saya ? Saling berbagi ilmu dan menasehati adalah faktor yang penting untuk bisa sama-sama maju. Jadi jangan simpan ilmu Anda untuk diri sendiri, saling membantu dan berbagilah dengan yang lainnya !

4. Beladiri Melatih Kesabaran dan Pengendalian Emosi Kita.
Dalam pertarungan beladiri diajarkan bahwa kita harus mampu mengendalikan emosi kita agar tidak mudah terpancing dan terprovokasi oleh jebakan lawan. Sebenarnya hal ini tidak berlaku dalam bidang beladiri saja. Apakah Anda ingat kejadian saat Piala Dunia 2006 di mana Zidane terprovokasi oleh Materazzi. Ya.. akibatnya fatal untuk Prancis saat itu. Dan Prancis harus membayar mahal dengan kekalahannya atas Italia.
Beladiri sebenarnya melatih kita untuk sabar. Melatih kita untuk sabar artinya menunggu momentum yang tepat untuk melakukan serangan maupun serangan balik. Pertarungan adalah sama dengan sebuah peperangan. Seorang ahli beladiri harus memiliki tingkat kesabaran yang tinggi dan tahu kapan saat yang  tepat untuk bertahan dan saat yang tepat untuk menyerang. Seorang ahli perang kuno bernama Sun Tzu selalu mengajarkan hal ini.

“Bersikap siap dan sabar menunggu saat musuh tidak siap adalah kemenangan.” ~Sun Tzu

“Kenalilah musuhmu, kenalilah diri sendiri. Maka kau bisa berjuang dalam 100 pertempuran tanpa resiko kalah. Kenali Bumi, kenali Langit, dan kemenanganmu akan menjadi lengkap.” ~Sun Tzu

“Ketika sepuluh lawan satu, kepunglah. Ketika lima lawan satu, seranglah. Ketik dua lawan satu, bertempurlah. Ketika seimbang pecah belahlah. Ketika lebih sedikit, bertahanlah. Ketika memadai, hindarilah.” ~Sun Tzu

KESIMPULAN
Apakah Anda ingat seorang tokoh dalam cerita "Tiga Kerajaan / Sam Kok" yaitu yang bernama Lubu. Lubu adalah seorang jendral yang terkuat dan terhebat dalam jaman Tiga Kerajaan, bahkan Lubu bisa mengimbangi  kekuatan Tiga Beraudara yang ternama waktu itu yaitu: Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei sekaligus. Tiga lawan satu dan berakhir imbang. Tetapi sayangnya Lu Bu adalah Jagoan yang tidak diperlengkapai dengan kedewasaan karakter dan sikap yang benar. Nasib Lu Bu pun berakhir dengan mengenaskan akibat tipu daya wanita.

Demikianlah beladiri yang benar mengajarkan kita untuk bagaimana menjalani hidup ini dengan sikap, mental dan karakter yang benar. Bukan menjadikan kita seorang Jagoan yang liar dan tidak terdidik.

Semoga bermanfaat :)


~Nobunagashop
Previous
Next Post »